Dapatkan Fasilitas seru di SUPRIZONE
feedburner
Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

feedburner count

Pemuda dan Peradaban

oleh: Supriatna*

Dari masa ke masa, pemuda dipandang sebagai sosok manusia yang pantang menyerah, visioner, ambisius bahkan keras kepala tapi selalu diyakini menyimpan segudang potensi. Pada kenyataannya, memang pemudalah yang selalu menjadi sosok yang paling menonjol ditengah-tengah masyarakat karena pemuda telah terbukti dapat menyumbangkan pengaruh dalam mentransformasi kebudayaan bahkan peradaban sebuah bangsa. Mereka kerap lekat dan kental dengan idealisme dan dinamisasi yang moderat terhadap kondisi di jamannya. Misalnya, pemuda memegang peran utama dalam transformasi negara terjajah menjadi negara merdeka atau negara dengan pemerintahan tiran menjadi pemerintah yang demokratis.
Di dalam sejarah islam, pemuda diberikan peranan yang sangat besar.Al-Quran banyak mengisahkan perjuangan para Nabi dan Rasul a.s yang kesemuanya adalah orang-orang terpilih daripada kalangan pemuda yang berusia sekitar empat puluhan. Mereka pun dikawal oleh pendamping setia yang kebanyakannya berasal dari kalangan pemuda. Usamah bin Zaid misalnya, pada usia 18 tahun, ia telah diangkat oleh Nabi saw sebagai komandan perang untuk memimpin pasukan kaum muslimin menyerbu wilayah Syam (saat itu merupakan wilayah Romawi) Padahal di antara prajuritnya terdapat orang yang lebih tua daripada Usamah, seperti Abu Bakar, Umar bin Khathab dan lain-lainnya. Tak heran bila Ibnu Abbas r.a berkata:
"Tak ada seorang nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia dipilih di kalangan pemuda saja (yakni 30-40 tahun). Begitu pula tidak seorang ‘Alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda". Kemudian Ibnu Abbas membaca firman Allah swt: "Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim"(Al Anbiyaa:60, Tafsir Ibnu Katsir III/183).
Pada masa perkembangan islam pun, para pemuda maju di garda depan sebagai golongan orang-orang yang melindungi dan membela islam. Bahkan kesungguhan dan keikhlasan mereka tercermin dalam goretan karya emas di lembar sejarah peradaban ini. Masa muda mereka rela dihabiskan dalam peluh bahkan jiwa raga tak pamrih tuk jadi pengorbanan, sebagaimana Imam Syafii, imam madzhab yang terkemuka telah hafal Al Quran pada usia sekitar 9 tahun dan mulai diminta ijtihadnya pada usia kira-kira 13 tahun. Bahkan, penaklukan Kota Konstantinopel yang diisyaratkan oleh rasulullah muhammad akan ditaklukan oleh pasukan terbaik dan dipimpin oleh pemimpin terbaik, ternyata dipimpin oleh Muhammad Al-Fatih yang baru berusia 24 tahun. Selain itu,pada masa kekinian di awal abad ke 20 terlahirlah gerakan islam bernama Ikhwanul Muslimin yang kini gerakannya telah menyebar ke segenap penjuru dunia,dimana tokoh pendirinya yang dikenal dengan sebutan Hassan Al Banna,seorang pendiri gerakan di usia 23 tahun.
Begitupun dengan pemuda di Indonesia, gerakan menuju kemerdekaan diusung dan dikawal oleh para pemuda. Sebagaimana diketahui, upaya pembebasan penjajahan yang telah mencengkeram Indonesia selama tiga setengah abad dapat dienyahkan di bumi ibu pertiwi ini melalui gerakan-gerakan yang didirikan dan dipimpin oleh para pemuda seperti organisasi Syarikat Islam, budi utomo, jong Islamitten Bond (JIB) dan banyak lagi lainnya. Selain itu, pemuda-pemuda kerap kali membuat momentum-momentum gebrakan dalam inisiasi persatuan bahkan membuat gebrakan seperti sumpah pemuda hingga “penculikan” soekarno ke rengasdengklok demi terealisasinya sebuah kemerdekaan bagi bangsa ini. Bahkan peran pemuda masih dirasakan dalam transformasi negara ini terutama hingga momentum reformasi pada tahun 1998. Dengan demikian, perjalanan sejarah telah membuktikan bahwa pemuda mempunyai peran besar dalam arah peradaban.
Namun, akankah pemuda saat ini mampu menyontoh generasi muda sebelum mereka dan dapat dengan sukses mengarungi gelombang kehidupan yang deras akan perang pemikiran dan arus informasi negatif yang tak terbendung walau dengan mengurung diri di rumah apalagi jika anak muda kita lebih kegirangan untuk nongkrong di pinggiran jalan. Sebagaimana kini, mereka dapat hadir dan mempengaruhi perilaku para pemuda dengan membuat mereka betah tinggal berlama-lama duduk hanya “berjuang” melawan tiran virtual atau lebih asyik duduk di pinggiran jalan, menghabiskan waktu dengan perbincangan yang penuh lelucon dan fragmatik. Globalisasi yang telah menyeret para pemuda dalam memilih jati diri memang telah membuat mereka kehilangan arah dalam berjalan dan kehilangan cahaya dalam kegelapan sehingga penglihatan mereka kabur. Dunia dalam pandangan mereka, adalah ketidakterbatasan, kerelatifan dan kebebasan. kebenaran dan kesalahan hanya dipandang dengan tolak ukur kepuasan nafsunya dan diukur dengan kedangkalan rasio mereka. Oleh karena itu, bila hal ini dibiarkan berlarut dalam dunia para pemuda, maka dikhawatirkan terjadi pengikisan idealisme dan kepekaan pada jiwa para pemuda yang akhirnya umat ini kehilangan peran mereka. Maka, wahai pemuda akankah kematian kita mendahului usia kita? Jika tidak, maka jadilah engkau seperti mentari pagi yang selalu diharapkan orang kemunculannya di tengah pagi buta yang gelap gulita, yang hadir dengan sinar dan kehangatannya.

*mahasiswa IESP FE UNPAD 2006