Biangnya jurang sosial yang makin menganga
Oleh: Supriatna*
Pada saat memasuki millenium baru, peradaban manusia diguncangkan oleh isu kesenjangan sosial yang semakin membesar antar anggota masyarakat. Diperkirakan, 20% orang menguasai penghasilan total dunia sebesar 85% sedangkan 80% lainnya menikmati kira-kira hanya 15% saja dari total penghasilan global. Hal ini jelas terlihat dimana pada satu sisi, kehidupan bagi sebagian kelompok orang adalah sebuah perjuangan untuk menghindar dari kematian karena bagi mereka, sesuap nasi dapat ditukar oleh kucuran keringat bahkan linangan air mata. Akan teapi, di sisi lain terdapatlah sebagian kecil orang yang dengan hanya menekankan satu jarinya , mereka dapat menggondol uang sebanyak mungkin hingga ribuan kali lipat dari penghasilan sebagian besar orang yang ada itu.
Hal yang menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana pertumbuhan sektor riel yang ada tidak tumbuh beriringan dengan sektor pasar keungan dunia. Hal ini terlihat dari survey BIS (Bank for International Settlement) pada bulan April 2004, diketahui bahwa perputaran uang yang terjadi pada pasar Foreign exchange saja sudah mampu mencapai US$ 1.8 triliun per harinya dan pada bulan September 2008 angkanya sudah mencapai US$5 triliun, bayangkan bila ditambah pula dengan perputaran uang di pasar surat berharga. Bandingkan dengan perputaran uang yang terjadi pada pasar arus barang dunia diperkirakan hanya mencapai US$7 triliun(sekitar US$19,5 miliar perhari). Dengan demikian, kasus ini menunjukkan kepada kita bahwa kondisi perekonomian yang terjadi saat ini di dunia adalah bubble economy(ekonomi balon). Disebut ekonomi balon, karena secara lahir tampak besar, tetapi ternyata tidak berisi apa-apa kecuali udara. Ketika ditusuk, ternyata ia kosong atau ketika ditiup main besar akan mungkin untu meledak, artinya sebuah ekonomi yang besar dalam perhitungan kuantitas moneternya, namun tak diimbangi oleh sektor riel, bahkan sektor riel tersebut amat jauh ketinggalan perkembangannya.
Bahkan menurut Pakar manajemen tingkat dunia, Peter Drucker, menyebut gejala ketidakseimbangan antara arus moneter dan arus barang/jasa sebagai adanya decopling, yakni fenomena keterputusan antara maraknya arus uang (moneter) dengan arus barang dan jasa. Gejala decoupling, sebagaimana digambarkan di atas, disebabkan karena fungsi uang bukan lagi sekedar menjadi alat tukar dan penyimpanan kekayaan, tetapi telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan dan sangat menguntungkan bagi mereka yang memperoleh gain(hasil). Meskipun bisa berlaku mengalami kerugian dalam waktu yang sangat singkat dalam kisaran hingga miliaran dollar AS.
Data-data tersebut menunjukkan bahwa perkembangan sangat cepat di sektor keuangan semakin cepat meninggalkan sektor riel. Dengan demikian balonnya semakin besar dan semakin rawan mengalami letupan. Ketika balon itu meletus, maka terjadilah krisis seperti yang sering kita saksikan di muka bumi ini termasuk saat ini di Amerika Serikat. Hal yang perlu dikritisi pula dari ketidakadilan sisem perekonomian dunia juga adalah terjadinya imbasan yang diperkirakan akan luar biasa melanda negara berkembang akibat krisis yang terjadi saat ini. Sebagaimana dilansir dari www.antara.co.id(13/10/2008) Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) pada hari minggu, 12 oktober 2008 memperingatkan bahwa negara berkembang dapat menanggung konsekuensi serius atas krisis keuangan yang terjadi saat ini. "Negara berkembang dan dalam peralihan (DRC) dapat mengalami konsekuensi serius dari setiap pengetatan kredit berkepanjangan atau kemunduran global yang berkelanjutan", demikian antara lain isi informasi yang disiarkan setelah pertemuan Komite Pembangunan Bank Dunia dan IMF. Selain itu, Presiden Bank Dunia Robert Zoellick juga mengatakan bahwa Negara berkembang, banyak di antaranya sudah menghadapi pukulan keras akibat tingginya harga energi dan kebutuhan pokok, terancam mengalami kemunduran sangat serius dalam upaya mereka meningkatkan standard hidup penduduk mereka dari pengetatan kredit berkepanjangan atau kemunduran global yang berkesinambungan, selain itu, kelompok yang dimungkinkan paling merasakan pukulan krisis ini adalah kelompok orang paling miskin dalam masyarakat.
Kerusakan peradaban manusia ini, tidaklah akan terbenahi bila sistem perekonomian yang ada segera dirubah haluannya. Dimana seharusnya, sektor riel harus menjadi priorias dari pembangunan ekonomi dunia. Hal ini dapat diwujudkan bila fungsi intermediasi(fungsi penyaluran dari orang yang kelebihan harta kepada orang yang kekurangan harta dapat berjalan dengan baik). Dengan demikian, perbankan yang ada sudah seharusnya untuk diarahkan dengan tepat untuk mengelola dananya pada penyaluran dana produktif di sekor pengembangan usaha di masyarakat.
Selain itu, hal yang harus direkonstruksi dari lembaga perbankan yang ada adalah dengan mengubah sistem bunga dengan sistem bagi hasil dan atau melakukan proses penyaluran dana investasi dengan sistem kemitraan. Sebagai conoh, dengan tingkat suku bunga kredit yang dikenakan bank-bank di Indonesia kepada para nasabahnya masih terlampau tinggi, sekitar 13-15 persen per tahun, sementara suku bunga tabungan hanya 3 persen per tahun. Dampaknya, banyak pengusaha mikro dan kecil yang sebenarnya sangat membutuhkan modal enggan meminjam uang dari perbankan. Mereka khawatir tidak sanggup membayar cicilannya. Dengan suku bunga kredit yang relatif tinggi, perbankan bukannya menyebarkan kesejahteraan, malah makin memperparah tingkat kemiskinan. Dampak lainnya, laju perekonomian negara pun tersendat. Bandingkan dengan sistem perbankan yang menggunakan sistem bagi hasil, para peminjam dan bank akan saling menanggung hasil baik untung maupun rugi. Dengan demikian, bila memang ada niat baik untuk memperbaiki kondisi saat ini maka sudah seharusnya semua pihak harus berani mengakui akan kelemahan yang ada pada perekonomian dunia saat ini serta harus mampu berlapang dada untuk menyatukan visi menggapai masa depan kita dan generasi anak cucu kita yang lebih cerah.
* mahasiswa ilmu ekonomi studi pembangunan fakultas ekonomi Universitas padjadjaran Bandung 2006