Mengintip indonesia 2009
Karya: SUPRIATNA*
Tahun 2009 diprediksikan oleh berbagai kalangan sebagai tahun yang penuh dengan berbagai kejutan yang bisa jadi membawa bangsa Indonesia menjadi lebih baik atau bahkan akan menjadi lebih terpuruk. Dari sebagian besar kalangan ekonom, menganggap bahwa tahun tersebut akan membawa bangsa Indonesia pada keterpurukan di sektor ekonomi sebagai imbasan dari krisis keuangan global. Bahkan Bank Dunia menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara yang paling beresiko terkena krisis global di tahun 2009. Sedangkan, sebagian kalangan politikus melihat bahwa 2009 sebagai tahun yang akan menghantarkan politik Indonesia kepada frame politik fragmatik. Dengan demikian, bila melihat bayang-bayang Indonesia tahun 2009 akan menjadi sebuah mimpi buruk bagi segenap bangsa Indonesia khususnya.
Memang bidang ekonomi akan menjadi isu populer pada tahun 2009 karena pada tahun ini diprediksikan akan terjadinya tsunami ekonomi global yang akan berimbas kepada berbagai sektor kehidupan. Dengan demikian, setiap negara harus waspada dengan hal tersebut dan tidak terkecuali untuk Indonesia. Sebagaimana telah disampaikan oleh Lembaga Riset Ekonomi Econit Advisory Group bahwa diprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 akan melambat dari tahun 2008. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada dikisaran 3 - 4% atau lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi tahun 2008 yang sekitar 6%. Begitu pun menurut William Wallace, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia, memproyeksikan laju ekonomi Indonesia pada 2009 turun menjadi 4,4%, dari 6% pada 2008. Hal ini disebut-sebut terjadi karena berlangsungnya penurunan kinerja motor ekonomi indonesia yang terdiri dari tiga faktor utama yang terdiri dari penurunan investasi asing, tingkat ekspor dan konsumsi masyarakat yang semakin menurun.
Penurunan investasi asing di Indonesia pada tahun 2009 diyakini sebagai reaksi untuk mengurangi kerugian akibat imbasan krisis global. Hal ini memang sangatlah wajar, karena sebagai seorang investor di tengah-tengah kondisi pasar yang berada pada ketidakpastian maka akan diketahui tingkat resiko yang akan semakin besar sehingga di masa ini para investor akan menjadi lebih risk averse(menjauhi resiko). Bila menilik hal tersebut, maka tingkat pelumasan untuk proyek-proyek pembangunan ekonomi akan terasa lebih kering, akibatnya pertumbuhan sektor usaha melambat.
Hal yang sulit terelakkan dari dampak krisis global di tahun 2009 adalah terjadinya penurunan tingkat ekspor. Penurunan angka ekspor ini tejadi karena harga sejumlah komoditas di pasar internasional turun serta volume permintaan dari sejumlah negara juga akan mengalami penurunan. Sejumlah produk yang akan mengalami penurunan volume dan nilai, kata Menteri perdagangan Mari Elka Pangestu, antara lain karet, serta produk pertambangan seperti nikel, aluminium, serta tembaga. Untuk komoditas itu diperkirakan akan mengalami penurunan mengingat industri otomotif yang membutuhkan karet untuk ban serta bahan pertambangan untuk pembuatan otomotif, juga mengalami kelesuan yang sangat berarti. “Akibat adanya kelesuan di industri otomotif dunia maka permintaan terhadap produk pertambangan juga akan melemah dan itu juga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekspor Indonesia,” kata Mari.
Dampak yang kini mulai dirasakan dan hal yang akan menjadi proyeksi kondisi masyarakat di tahun 2009 adalah dengan bertambahnya angka Pemutusan hubungan Kerja (PHK) bagi para karyawan. Para pekerja di sektor usaha tekstil khususnya dan pendukungnya terancam kehilangan pekerjaan sebagai imbas dari melemahnya ekspor tekstil akibat krisis global. Saat ini para pelaku usaha Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) terus bergelut dengan situasi pasar luar negeri yang sepi dan daya beli yang terus merosot. Diakui Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Komda Semarang Agung Wahono, sekuat apapun industri tekstil berproduksi namun pasar tak mampu menyerapnya, tentu percuma saja. Bahkan, pada bulan-bulan belakangan terakhir ini yang seharusnya menjadi masa puncak pesanan menghadapi peak season saat Natal dan Baru, benar-benar di luar kebiasaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan beberapa buyer malah minta renegosiasi agar harga yang sudah disepakati itu bisa mendapatkan potongan 20-30%, menyusul sulitnya keuangan buyer pasca krisis finansial yang hampir merata dirasakan. Selain itu, harga-harga kebutuhan pokok yang relatif mahal akan semakin memperparah daya beli masyarakat. Dengan demikian, konsumsi masyarakat diperkirakan akan berkurang.
Selain sektor ekonomi, bidang politik pun ikut andil dalam mewarnai kondisi bangsa Indonesia di Tahun 2009 karena pada tahun ini akan diselenggarakan pesta demokrasi besar-besaran. Dengan jumlah Partai Politik yang mencapai 34 partai politik, membuktikan bahwa betapa besarnya pergulatan kepentingan yang ada di tataran elite politisi yang sudah sulit untuk disatukan dalam sebuah cita-cita bersama walaupun memang tidak bisa dipungkiri sebagai gejala demokrasi politik yang wajar. Akan tetapi, di balik itu semua hal yang mesti diperhatikan adalah bagaimana dengan kondisi masyarakat indonesia saat ini sehingga keberlangsungan Pemilu ini dapat berlangsung secara sehat.
Diakui ataupun tidak, kondisi melek politik masyarakat saat ini masih berada jauh dibawah ideal karena bila dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat dari bangsa Indonesia yang rata-rata berada di kisaran tingkat pendidikan sekolah dasar saja. Hal ini juga disinyalir akan berperan negatif bila digabung dengan situasi ketidakstabilan ekonomi di tahun 2009 yang memungkinkan berjalannya politik pragmatis. Politik ini akan berwujud berupa pembelian suara rakyat melalui iming-iming materi. Sebagaimana pemaparan ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Susantio di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (25/11/2008) yang menyatakan bahwa "Apabila dunia usaha kita hancur, Pemilu 2009 nanti tidak sesemarak 2004. Ini ancaman bagi pelaku politik Jika ancaman ini tidak segera diantisipasi, maka diprediksi politik uang akan meningkat. Masyarakat dianggap akan memilih calon yang memberi uang banyak dibanding calon yang 'miskin'."Masyarakat nantinya tidak akan realistis memilih pemimpin. Siapa pun yang membayar itu yang akan dipilih”.
Memang bila kita melongok kondisi bangsa Indonesia ke tahun 2009 pada saat ini maka kita akan menemukan betapa beratnya hari esok yang akan dilalui oleh bangsa Indonesia khususnya. Akan tetapi, hal ini janganlah hanya membuat kita berpangku tangan serta berpasrah saja dan menunggu terjadinya prediksi tersebut tapi kita harus mengambil ancang-ancang segera dengan bersiap siaga lebih dini sehingga mimpi buruk tahun 2009 tidak akan terwujud.
*adalah mahasiswa jurusan ilmu ekonomi studi pembangunan fakultas ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung angkatan 2006. Saat ini,aktif pula sebagai kalangan akademisi muda Kampus sebagai Teaching assistant micro-macroeconomics sekaligus berperan pula sebagai ketua umum Badan Semi otonom mahasiswa tingkat Fakultas (PERMAIS FE UNPAD).