Dapatkan Fasilitas seru di SUPRIZONE
feedburner
Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

feedburner count

Agar tidak ada bakti sosial Musiman di indonesia

oleh : supriatna

Ditengah hirup pikuk masalah di berbagai sektor yang mendera bangsa Indonesia saat ini, masyarakat masih harus dihadapkan dengan tontonan yang menjengkelkan dari ulah para pemangku amanah di negeri ini. Hal memprihatinkan itu adalah adanya kecenderungan sikap saling menjatuhkan di kalangan elit tersebut demi meyakinkan masyarakat bahwa dia lebih bagus dibanding lawannya yang lain. Mereka hanya sibuk mempertontonkan kebaikan yang terus digembar-gemborkan di media massa dan terus mengobral janji fatamorgana pada wong cilik bangsa ini. Namun , sisi lain yang menarik dan patut disyukuri ketika dekatnya bangsa ini ke arena Pemilihan umum adalah para elit seolah menjadi sosok yang lebih simpati dan lebih peka terhadap kondisi masyarakat bawah.
Waktu Pemilihan Umum memang kian dekat, gejolak suhu politik kian memanas dari akar rumput hingga pucuk. Momentum demokrasi tahun 2009 ini haruslah membawa harapan baru dan efek positif bagi masyarakat bangsa Indonesia yang sebenarnya sudah terlalu lelah dengan janji-janji yang selalu digembar-gemborkan tapi realisasinya jauh dari asa. Jangan sampai masyarakat lagi-lagi menjadi korban konflik para elit yang memperebutkan kekuasaan. Untuk itu diperlukan sikap lapang dada dan kedewasaan para elit, para simpatisan dan unsur masyarakat yang mendukung salah satu kandidat yang mereka usung untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa menjerumuskan massanya ke dalam konflik horizontal.
Sikap-sikap kepedulian pemimpin seyogyanya tidak tergantung pada keadaan di masa menjelang pemilu ataupun tidak tetapi harus terus dilakukan terutama bila mereka telah diusung rakyat untuk jadi pemimpinnya. Boleh jadi, fenomena terjadinya penurunan partisipasi masyarakat atau tingginya angka Golongan putih (golput) pada pemilihan umum 2004 ataupun Pilkada di daerah daerah hingga menembus angka 40% menunjukkan adanya penurunan kepercayaan terhadap calon-calon yang diusung. Hal ini pun terlihat dengan tingginya tingkat kecerdasan pemilih dengan semakin maraknya opini kritis terhadap iklim politik dan pandangan terhadap ranah kepemimpinan bangsa saat ini.

Sepertinya para elit politik bangsa ini harus bercermin pada pemimpin sederhana seperti presiden Iran, Ahmad dinejad. Memang Ahmad Dinejad baru jadi buah bibir ketika sudah menjadi presiden Iran dengan nyata-nyata berani membusungkan dada melawan hegemoni Amerika. Bahkan menurut beberapa informasi, Ahmad dinejad telah melakukan kebiasaannya untuk menjenguk orang sakit dan berziarah kepemakaman orang-orang disekitarnya. Begitu pun, Jarang orang membicarakan bagaimana dia dapat naik menjadi presiden dan strategi komunikasi seperti apakah yang ia gunakan. Sangat minim sekali data mengenai strategi tersebut.
Menurut salah satu sumber disebutkan bahwa Salah satu strategi kampanye yang dilakukan oleh ahmad dinejad adalah menggunakan dana yang minim tapi efektif. Dengan membuat sebuah video tentang kehidupannya sehari-hari ketika di kampus dan ketika menjadi walikota Taheran kemudian video tersebut disebar melalui internet dan dalam bentuk keping CD. Dan menariknya video yang disebar tidak dibuat oleh agency profesional dengan kualitas dan arahan sutradara yang bagus seperti beberapa iklan Obama di youtube dan iklan-iklan calon presiden Indonesia, video tersebut dibuat secara amatir oleh teman-teman Dinejad sesama dosen. Tapi ternyata efeknya sangat besar bahkan bisa mengalahkan Rafsanjani yang menggunakan seluruh media yang ada sebagai fasilitas kampanye.
Dari teladan pemimpin Iran tersebut, dapat diambil formula dalam menggapai sukses kampanye tersebut, diantaranya sebagai berikut:
1. Hadirlah sebagai pribadi yang apa adanya
sebagai manusia yang hidup dalam tatanan sosial yang sangat kompleks, seorang elit harus mampu menunjukkan konsistensi dari semua perbuatannya. Konsistensi antara perkataan dan perbuatan serta konsisten dalam melakukan kebaikan-kebaikan sehingga pada akhirnya, pelabelan status kebaikan telah berada menyatu pada figur pemimpin tersebut. Dengan demikian, ketika kampanye tidak diperlukan promosi besar-besaran dan promosi janji belaka tapi sudah menjadi pribadi kepemimpinan yang melekat.
2. Sederhana dalam bergaul
Melihat fenomena jurang kemiskinan yang semakin menganga antara kaum kaya dan kaum miskin maka sudah seharusnya diperlukan yang dapat diterima ke dalam berbagai kalangan. Oleh karena itu, pada akhirnya masyarakat secara otomatis akan membutuhkan orang tersebut untuk menjadi pemimpin mereka.

3. Buatlah tim yang baik dan professional
Tak perlu ditanya lagi, seseorang akan dilihat kinerja kerjanya dari bagaimana ia bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Dengan demikian , sebuah referensi yang shahih bila masyarakat akan bersimpatik dan berani memilih karena pemimpin tersebut, mampu menunjukkan kinerja tim atau orang terdekatnya mulai dari keluarga maupun tetangganya dalam keadaan yang baik.
4. Buatlah kampanye tertib dan mencerdaskan
Banyak orang akan menaruh simpati pada calon yang berkampanye melalui cara-cara yang tertib dan dapat menyampaikan promosi secara jujur dan penyampain promosi dengan fakta-fakta yang memang nampak dan dirasakan oleh masyarakat.

Dengan belajar dari pengalaman tersebut, maka diharapkan terjadi pemulihan kepercayaan terhadap calon pemimpin yang akan diusung untuk mengisi jabatan di kursi amanah rakyat yang ditandai dengan adanya penurunan angka golongan putih (golput). Selain itu, yang terpenting tidak ada lagi bakti sosial musiman yang hanya terjadi pada masa pemilihan umum saja.