Program Konversi yang Membuat Masyarakat Punya Gengsi
Pada awalnya program konversi minyak tanah ke gas menuai kritik dan ketidaksetujuan dari berbagai pihak bahkan masyarakat sendiri yang merupakan objek dari program tersebut. Keengganan masyarakat dalam menerima program konversi ini sebenarnya lebih dikarenakan telah nyamannya masyarakat dalam menggunakan kompor yang berbahan bakar minyak dalam jangka waktu yang relatif lama dan turun temurun. Selain itu, keengganan ini berawal dari anggapan masyarakat awam bahwa kompor gas cepat panas dan rentan untuk meledak. Akan tetapi, seiring bergulirnya program tersebut, ternyata masyarakat Baik rumah tangga maupun usahawan kecil di masyarakat mulai teryakinkan dan tercerahkan bahwa penggunaan kompor gas punya sisi lebih baik dibandingkan dengan kompor minyak.
Hal tersebut, teraspirasikan oleh ibu dan bapak rumah tangga serta para pengusaha kecil seperti: penjual gorengan, penjual bakso, warung makan, penjual bubur ayam yang berada di kawasan padat penduduk yaitu jalan cihampelas kelurahan cipaganti kecamatan coblong kota Bandung. Secara umum, dari hasil penelusuran terhadap warga di kawasan tersebut ada 3 sisi penghematan yang mereka rasakan setelah beralih dari menggunakan kompor berbahan bakar minyak(BBM) ke kompor berbahan Bakar gas(BBG), yaitu: hemat biaya, hemat waktu dan hemat energi.
Menurut penuturan mereka, hikmah terbesar dengan dilaksanakan program konversi ini khususnya pasca pencabutan subsidi minyak tanah sehingga harga minyak tanah di kawasan tersebut mencapai 9.000-10.000 rupiah adalah menghemat anggaran pengeluaran rumah tangga atau biaya operasional dari bisnis mereka dengan acuan harga 1 tabung gas 3 kg sebesar 18.000 rupiah di tingkat pengecer. Untuk kategori rumah tangga(4-5 jiwa), mereka rata-rata dapat menghemat anggaran belanja sebesar 45.000-50.000 rupiah setiap pekan sehingga anggaran ini dapat dialokasikan ke pos pengeluaran yang lain. Sedangkan para pedagang dapat mengurangi biaya variabel(biaya operasional) mereka sebesar 75.000-80.000 rupiah dengan asumsi mereka tidak menggunakan juga BBM dan harga produk yang mereka jual sama maka mereka mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan mereka menggunakan BBM. Oleh karena itu,para pedagang tersebut sangat berharap proses realisasi program konversi gas khusus bagi para pedagang segera dilakukan karena mereka baru mendapat 1 set kompor gas yang sebelumnya dijanjikan 2 set kompor gas yang akan diberikan.
Selain itu, masyarakat menanggapi bahwa dengan kompor gas bisa lebih hemat waktu. Hemat waktu terjadi pada tiga hal dalam memasak, yaitu: pertama,hemat waktu dalam persiapan karena kompor gas cukup dinyalakan dengan menggerakkan pemantik gas saja sedangkan untuk menyalakan kompor minyak perlu dilakukan persiapan khusus seperti menyiapkan media penghantar api, menyalakan korek dan sebagainya. Kedua, hemat waktu pada saat proses memasak karena dibandingkan kompor minyak, kompor gas lebih cepat 15-20 menitan. Ketiga, hemat waktu setelah pemakaian. Hal ini dirasakan sebab dengan menggunakan kompor minyak biasanya membuat gosongan hitam pada perabot dapur yang sukar dihilangkan bahkan bisa lebih repot lagi ketika minyak dalam kompor meluber keluar akibat pengisian yang tidak hati-hati.
Namun, yang menarik adalah adanya pola sikap yang berubah di masyarakat awam seperti yang menimpa beberapa keluarga di RT.04 RW.04, mereka berubah kebiasaan dalam mengonsumsi bahan bakar khususnya dalam hal menghangatkan air untuk mandi. Setelah, menerima kompor gas mereka melarang anggota keluarganya untuk mandi dengan air hangat yang dimasak pada kompor gas sehingga keluarga tersebut hingga kini sangat jarang sekali memasak air untuk mandi.Oleh karena itu, dapat dikatakan efek lainnya adalah hemat energi.
Akan tetapi, dibalik itu semua, masyarakat masih menyimpan kekhawatiran yang membuat mereka was-was bahwa bila harga gas akan naik dan bahkan mereka menyatakan lebih kebingungan lagi ketika tabung gas langka di pasaran. Sehingga, harapan mereka dari bergulirnya program konversi ini adalah pemerintah baik dalam hal ini pertamina, dapat menjaga pasokan gas tetap terjaga dan menjaga harga gas tabung 3 kg berada pada kisaran 15.000-20.000 rupiah.
Selain harapan yang mereka nyatakan, mereka pun mengungkapkan bahwa kendala keawaman dalam mengoperasikan gas sering menjadi kendala bahkan hampir di seluruh rumah tangga yang disurvei di daerah tersebut, setidaknya terdapat satu atau dua orang dari anggota keluarga yang dewasa tidak bisa menggunakan kompor gas karena takut. Oleh karena itu, perlu ada penyuluhan terhadap masyarakat khususnya masyarakat berpendidikan rendah. Akan tetapi, terlepas dari kendala yang ada, program konversi BBM ke gas ini telah menunjukkan pengaruh positif bagi kondisi perekonomian masyarakat. Dengan demikian, tepatlah bila dikatakan masyarakat lebih hemat tanpa minyak.