Belajarlah Pada Orang yang Tepat Jika Tidak Mau Tersesat
oleh:SUPRIATNA*
tag: ulang tahun ke-11 detikcom
Pada saat itu, tepatnya sekitar tahun 2002, di tengah perjalanan menuju rumah seorang teman, Aku menangkap sebuah fenomena baru di jalan sekitar kampus SMP-ku yang dalam ingatanku enam bulan yang lalu tidak ada yang seperti itu. Aku menemukan sebuah antrian anak-anak sebayaku yang diselingi oleh beberapa orang dewasa sekitar usia mahasiswa di sebuah tempat bertuliskan Warnet alias warung internet. Terperanjat aku dibuatnya Karena teringat kosakata “canggih” yang kerap disebut-sebut oleh teman-teman sepermainanku ternyata tertulis di jendela tempat itu. Kosakata itu disebut internet, yang konon bila merujuk pada pembicaraan teman-temanku, internet adalah tempat asik untuk “ngintip” foto atau video cewek dengan “full akses” dan durasi bebas dengan tanpa konsekuensi digebugin ceweknya bahkan konon ceweknya bangga kalo banyak yang melihat. Hal tersebut tentunya membawa fantasiku kepada hal yang menggelitik dalam menginterpretasikan makna dari internet itu sendiri sehingga sambil berjalan aku pun berusaha menata hati untuk berprasangka baik kalo tempat itu bukan “tempat maksiat” modern. Maklum ketika itu, yang terpikir dalam benakku adalah gambaran fungsi internet untuk hal demikian sebagaimana yang teman-temanku katakan.
Hari pun terus berganti, seolah penyebaran virus maka rumor internet pun makin marak mengisi pembicaraan siswa-siswi di pojok-pojok sekolah. Bahkan, disuatu hari ada seorang guru yang meminta mencari bahan untuk belajar dari internet. Hal itu sontak membuat aku bingung karena kini bukanlah satu info yang nyeleneh saja yang aku dapat tapi juga info bahwa ternyata dengan internet kita bisa ngobrol lintas benua dan bisa menemukan materi mata pelajaran. Dengan demikian, tidak seperti Biasanya ketika diajak oleh teman untuk ke warnet secara refleks aku selalu menolak dengan jawaban bahwa aku takut terjerumus dosa. Maklum aku dikenal sebagai anak paling alim di sekolah ketika itu. Namun, kini hati pun bergejolak untuk menggerakkan kaki agar mau berkenalan dengan makhluk bernama internet. Oleh karena itu, akhirnya aku putuskan untuk mengajak seorang teman untuk mengajariku dalam menggunakan internet.
Pada saat perjalanan menuju warnet, hatiku dag-dig-dug tak menentu karena membayangkan hal-hal yang mungkin terlihat ketika aku menggunakan internet. Bahkan, keringat dingin keluar dari sela-sela jari ketika aku mulai menekankan jari pada tombol-tombol keyboard dan pada saat menggerak-gerakkan mouse. Adapun pelajaran pertama yang temanku ajarkan adalah bagaimana menggunakan fasilitas Search engine google. Aduhai riangnya hatiku karena ternyata tidak terjadi apa-apa seperti yang tadi ketika dijalan aku bayangkan sehingga aku pun mulai tidak ragu-ragu bertanya pada temanku dari mulai bagaimana melakukan Chatting, membuat dan menggunakan email dan sebagainya. Akan tetapi, memang temanku ini usil sekali, di penghujungnya ia menyuruhku untuk mengetikkan alamat sebuah situs yang memang terasa aneh di benakku tapi aku pun tetap mencoba yakin bahwa temanku takkan menjerumuskan. Jreng…Jreng…Jreng,.. amboi…. setelah diperhatikan dengan seksama beberapa detik ternyata aku baru menyadari kalo aku sedang melihat “penampakkan”. Hohoho… serta merta aku pun mengusap muka seraya bertaubat pada Tuhan. Dengan hati dongkol pada temanku tersebut ditambah dengan muka yang terasa memanas dan konon terlihat memerah maka aku pun beranjak dari tempat tersebut.
Fiuwh…. Sungguh pengalaman yang menegangkan sekaligus tak terlupakan karena ternyata internet bukanlah makhluk yang wujudnya sebagaimana yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Oleh karena itu, setelah kejadian tersebut (red: tapi bukan karena kejadian yang dijaili temanku) aku mulai tertarik dan sering berinteraksi dengan internet bahkan mulai kecanduan untuk ngulik-ngulikny. Bahkan rasa penasaran ini aku lanjutkan dan kembangkan ketika menginjak di SMA. Terlebih karena sekolah SMA-ku merupakan sekolah tergolong elit di kota Bandung maka bertepatan dengan mata pelajaran web design aku sangat mendalami internet sehingga sampailah ketika itu aku bisa membuat sebuah web sendiri hingga online (klik di sini untuk melihat).
Mengingat pengalaman ini, aku merasa malu alias merasa wong deso karena baru bisa memahami apa itu internet pada saat menginjakkan kaki di jenjang bangku SMA. Namun, ada pelajaran berharga yang bisa kita petik yaitu: jangan cepat menghakimi sesuatu yang kita sendiri belum memiliki cukup informasi tentang hal tersebut serta yang terpenting adalah belajarlah pada orang yang tepat karena jika tidak maka bersiaplah untuk tersesat.
NOTES:
*adalah mahasiswa jurusan ilmu ekonomi studi pembangunan fakultas ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung angkatan 2006. Saat ini,aktif pula sebagai kalangan akademisi muda Kampus sebagai asisten dosen mata kuliah mikroekonomi dan makroekonomi sekaligus berperan pula sebagai Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi universitas Padjadjaran 2009/2010 (BEM FE UNPAD 2009/2010).